Rabu, 16 Februari 2011

Kekuatan Raksasa Militer Indonesia 1960


1960-an, Era Presiden Sukarno.
kekuatan militer Indonesia adalah salahsatu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.

1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda.

Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat "Trikora" di Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.

Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.

Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salahsatu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).


Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15.
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.


Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.

Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.


Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.

Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.

Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

Ini semua membuat Indonesia menjadi salasahtu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima.


8 Blogger Tersukses Dunia !!

Orang orang sukses dari internet? siapa saja mereka..? bagaimana mereka bisa sukses?..seperti apa blog/web mereka? kontennya apa? dari mana sumber uangnya? bagaimana trafficnya..? dan banyak pertanyaan semacamnya yang muncul di benak saya. Pertanyaan semacam itu muncul karena rasa penasaran yang kuat terhadap kesuksesan dalam bisnis online di internet.  Web blog yang ditujukan untuk making money online atau making money from home atau apalah orang menyebutnya, tentunya harus dapat mengambil pelajaran dari mereka.

Dan tentunya terdapat pelajaran yang mahal, jika saja dapat mengambilnya dari sana. Tidak masalah pelaku bisnis online internet di Indonesia atau luar Indonesia, mungkin berbeda dalam aplikasi dan pelaksanaannya di lapangan. Tetapi inti ilmu pengetahuan selalu sama bukan?

Berikut 8 orang yang sukses dari bisnis online internet yang didapat dari www.pesancewekbispak.blogspot.com. Kita akan coba perhatikan satu persatu.

1. BoingBoing.net

Boingboing.net. Pemiliknya bernama Mark Frauenfelder, seorang penulis dan ilustrator. Mark pernah bekerja sebagai kolumnis bulanan “living online” di majalah Play Boy selama kurang lebih 3 tahun.

Didirikan : January, 2000
Penghasilan : Rp 1 Milyar per tahun
Topik Blog : Komik, fiksi ilmiah, komputer, dan teknologi
Trafik : 22 juta page views dan 2,6 juta unique visitors (pengunjung blog yang berasal dari 1 alamat IP tertentu) per bulan
Update : 20-40 postingan per hari dengan 4 penulis bayaran
Sumber penghasilan : Iklan dengan tarif US $ 350 per minggu (yang button kecil), iklan banner $ 2000 – $ 3000 untuk minimum 170,000 impresion.

2. ShoeMoney.com

Pemilik blog adalah Jeremy Schoemaker, pria berkepala plontos asal Amerika Serikat yang berpenampilan eksentrik.
Didirikan : Oktober 2005
Penghasilan : $12,000 per bulan (setara Rp 1,4 milyar per tahun)
Topik : Make money online
Trafik : 20,000 unique visitors per hari
Sumber penghasilan : Produk sendiri, AuctionAds, dan Adsense
Jumlah visitor : 20,000 per hari.

3. Talkingpointsmemo.com

Pemilik: Josh Marshall. Mantan reporter politik yang menjadi full-time blogger.
Didirikan : November 2000
Penghasilan : $54,000 per bulan (setara Rp 5,4 milyar per tahun)
Topik : Politik
Trafik : 500,000 page views per minggu
Sumber penghasilan : Iklan, afiliasi



4. perezhilton.com

Pemiliknya Mario Lavandeira. Simak kata-katanya ini, “Advertisers come to me because I get a lot of traffic. I get a lot of traffic because I work hard”.

Didirikan : September 2004
Penghasilan : $110,000 per bulan (setara Rp 13,2 milyar per tahun)
Topik: Gosip selebriti
Update : 20 postingan per hari
Trafik : 4 juta unique visitors per hari
Sumber penghasilan : Iklan (1 banner bertarif $13,000 per hari)
Perez Hilton memang blog selebriti dunia. Pemiliknya pun menjadi selebriti. Bahkan, dia menjadi juri dalam pemilihan Miss America 2009.

5. Gothamis.com

Pemiliknya adalah Jake Dobkin. “Advertisers like the demographics: young, educated, and often wealthy readers. A real draw for the city-based sites is the ability to target online ads geographically. It’s a benefit that some of the other independent publishers or blog networks can’t offer,” Dobkin says.

Didirikan : Januari 2003
Penghasilan : $50,000 per bulan (setara Rp 6 milyar per tahun)
Topik : Dinamika kota New York, seni, makanan, events, dan 7 kota-kota metropolitan dunia
Update : 20-25 postingan per hari (lebih dari 5 penulis)
Trafik : 7 juta page views per bulan
Sumber penghasilan : Iklan

6. TechCrunch.com

Pemiliknya adalah Michael Arrington. “Our advertisers are people who want to reach a tech audience and an early-adopter audience. It’s a targeted audience that spends a lot of money,” Arrington says

Didirikan : Juni 2005
Penghasilan : $200,000 per bulan (setara Rp 24 milyar per tahun)
Topik : gear, mobile technology, and sites
Trafik : 5 juta page views per bulan
Sumber penghasilan : Iklan (button kecil tarifnya $300 dan banner $ paling kecil $1,000 per minggu) dan job board

7. Mashable.com

Pemiliknya adalah Pete Cashmore. “Now it’s more than a full-time job. Bloggers don’t get much sleep,” he says

Didirikan: Juli 2005
Penghasilan : $166,000 per bulan (setara Rp 19,9 milyar per tahun)
Topik : Ttrend of mashups
Trafik : 4 juta page views per bulan
Sumber uang utama : Iklan teks (tarifnya $100 per minggu) dan banner (tarifnya $2,000 per minggu)

Memang blogger harus banyak begadang, sedikit tidur biar seperti Mashable tuh

8. Problogger.net



Pemiliknya Darren Rowse. Ia sering dijuluki Bapaknya para blogger yang make money blogging. Dengan bantuannya (dibahas dan mempersilakan para blogger menjadi guest blogger di blognya), banyak blogger yang menjadi terkenal (misalnya Yaro Starak, Chris Garret) dan meraup ribuan dolar per bulannya.

Didirikan : November 2004
Penghasilan : $100,000 per tahun (setara Rp 1 milyar)
Topik : Make money online dan make money blogging
Up date : 1-2 postingan per hari
Trafik : 1,5 juta pengunjung per bulan
Sumber uang utama : Chitika, Google AdSense, Text Link Ads, dan Amazon Associates.
.........................

Apakah sudah didapat gambaran bagaimana mereka bisa sukses? Ada banyak faktor berbeda memang antara satu sama lain. Tapi menurut saya intinya adalah satu! yakni kerja keras! dan kedua dibarengi dengan skill yang memadai!.

Apakah Anda memiliki keduanya? sangat bagus!. Apakah Anda mau dan bisa kerja keras? itu yang terbagus. Anda mungkin berfikir tidak mempunyai skill yang memadai. Inilah jawabannya: Apa Anda setuju jika saya mengatakan bahwa skill Anda bisa dipelajari? dengan belajar dan tentunya kerja keras?. Jika Anda punya kemauan dan keinginan yang kuat pasti Anda akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginan Anda bukan?.

Dalam dunia cinta kita kenal pepatah "lautan akan kusebrangi dan gunung tinggi akan kudaki". Coba terapkan pepatah itu pada keinginan sukses Anda di bisnis online internet dan money from home Anda. Jangan jadikan kekurangan sebagai halangan untuk melangkah!, tapi jadikan ia sebagai pendorong semangat Anda. Pejalari apa yang Anda belum tahu, dan laksanakan setelah Anda mengetahuinya.

Bosan? Jemu? Males? karena setelah sekian lama belum juga mendapatkan hasil?. Ok..itu saya sebut titik jemu. Semua orang di semua jenis pekerjaan pasti mengalami titik jemu ini. Itu wajar!. dan jemu itu akan segera lenyap sesaat setelah Anda mengingat bahwa Anda adalah orang yang pantang menyerah!, pantang putus asa! dan seterusnya.

Trial and error? ohoo itu wajib kita lalui bro!. Adalah keberuntungan yang langka jika Anda tidak mengalaminya. Ini namanya proses, dan proses harus dilalui sebelum mencapai tujuan. Dan jelas tidak akan sampai tujuan jika tidak melalui proses. So..kenapa tidak mulai sekarang juga proses-proses itu!. Orang orang yang sukses saat ini, adalah orang orang yang melalui proses satu atau dua atau tiga tahun yang lalu. Apakah Anda sepakat dengan yang ini..?

Apakah Anda juga akan setuju jika saya mengatakan bahwa sukses itu hanya jika kita memulai dari nol? Ingat! tangga selalu dimulai dari anak tangga pertama dari bawah dan bukan dihitung dari atas!. Maka kemudian yang ada adalah puncak tangga atau puncak kesuksesan, bukannya dasar tangga atau dasar kesuksesan.

Posting ini sengaja saya tulis panjang lebar dengan tujuan untuk menyemangati diri saya khususnya dan umumnya siapa saja yang secara kebetulan atau tidak membaca psoting ini. Mari tanamkan dalam pikiran kita untuk selalu kerja keras dan terus belajar (maksudnya dalam semua hal).

Selamat berjuang! Good luck and terimakasih dan semoga bermanfaat..

Catatan :

"Ilmu menjadi berguna hanya jika dapat mengambilnya, dan ilmu hanyalah setumpuk sampah bagi orang orang yang tidak bisa mengambilnya!"
 Anda mau komentar? Itu semangat untuk saya! dan pasti Anda adalah orang yang mempunyai semangat sukses atau bahkan Anda adalah orang sukses karena Anda mempunyai semangat sukses!


Sabtu, 12 Februari 2011

10 orang terkaya di dunia tahun 2010

berkshire hathaway new york hotel college education divorce law gate Steve Forbes, direktur, CEO dan Kepala Redaksi Majalah Forbes telah mengadakan konferensi pers di New York, Amerika Serikat, 10 Maret 2010 lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2010 inipun majalah bisnis Amerika tersebut merilis daftar orang terkaya di dunia terbaru. . Daftar yang disusun tahun ini menunjukkan kenaikan jumlah orang kaya, yakni 1.011 orang, naik dibandingkan 793 tahun lalu meski tak sebanyak tahun 2008 yang mencapai 1.125. Dalam daftar tampak pula bahwa orang-orang terkaya di dunia masih didominasi warga AS, yakni sebesar 40 persen. Meski begitu, angka ini turun dibandingkan persentase tahun lalu yang besarnya 45 persen. . Dari deretan atas daftar 10 orang terkaya di dunia tersebut masih didominasi wajah-wajah lama seperti Bill Gates, Warren Buffet, Laskmi Mittal dan beberapa yang lain. Dan untuk urutan pertama orang terkaya di dunia 2010 ini dipegang oleh Carlos Slim dari Meksiko dengan total kekayaan mencapai USD 53,5 Miliar terpaut lebih banyak USD 500 juta dari runner up yang dipegang oleh Bill gates bos dari Microsoft. . Tahun inipun jumlah orang terkaya di dunia. yang berhasil didata meningkat dari 793 orang terkaya menjadi 1,011 orang. Sebagian besar masih didominasi oleh warga Amerika Serikat (40%) dan terbesar dari kota New York. Negara kedua penghasil orang terkaya di dunia dipegang Cina yang menggeser Russia yang pada tahun lalu menjadi runner up. Jumlah orang terkaya dari Cina meningkat cukup tajam diikuti peningkatan jumlah orang terkaya dari Asia lainnya yang cukup naik tahun ini. Daftar 10 Orang Terkaya di Dunia 2010 1. CARLOS SLIM HELU Net Worth : $53.5 Billion Fortune : Self made Source : Telecom Age : 69 Country Of Citizenship : Mexico Residence : Mexico City Industry : Telecommunications Education : NA Marital Status : Widowed, 6 children 2. BILL GATES Net Worth : $53.0 Billion Fortune : Self Made Source : Microsoft Age : 54 Country Of Citizenship : United States Residence : Medina, Washington Industry : Software Education : Harvard University, Drop Out, Marital Status : Married, 3 children 3. WARREN BUFFETT Net Worth : $47.0 Billion Fortune : Self Made Source : Berkshire Hathaway Age : 79 Country Of Citizenship : United States Residence : Omaha, Nebraska Industry : Investments Education : Columbia University, Master of Science Marital Status : Widowed, remarried, 3 children 4. MUKESH AMBANI Net Worth : $29.0 Billion Fortune : Inherited and Growing Source : Petrochemicals Age : 52 Country Of Citizenship : India Residence : Mumbai Industry : Manufacturing Education : University of Bombay, Bachelor of Arts/Science Marital Status : Married, 3 children 5. LAKSHMI MITTAL Net Worth : $28.7 Billion Fortune : Inherited and Growing Source : Steel Age : 59 Country Of Citizenship : India Residence : London Industry : Steel Education : St Xavier’s College Calcutta, Bachelor of Arts/Science Marital Status : Married, 2 children 6. LAWRENCE ELLISON Net Worth : $28.0 Billion Fortune : Self made Source : Oracle Age : 65 Country Of Citizenship : United States Residence : Redwood City, California Industry : Software Education : University of Illinois, Drop Out Marital Status : Married, 2 children 7. BERNARD ARNAULT Net Worth : $27.5 Billion Fortune : Inherited and Growing Source : LVMH Age : 61 Country Of Citizenship : France Residence : Paris Industry : Retail Education : Ecole Polytechnique, Bachelor of Arts / Science Marital Status : Married, 5 children 8. EIKE BATISTA Net Worth : $27.0 Billion Fortune : Self Made Source : Mining, Oil Age : 53 Country Of Citizenship : Brazil Residence : Rio de Janeiro Industry : Retail Education : RWTH Aachen University, Drop Out Marital Status : Divorced, 2 children 9. AMANCIO ORTEGA Net Worth : $25.0 Billion Fortune : Self Made Source : Zara Age : 74 Country Of Citizenship : Spain Residence : La Coruna Industry : Retail Education : NA Marital Status : Married, 3 children 10. KARL ALBRECHT Net Worth : $23.5 Billion Fortune : Self Made Source : Aldi Age : 90 Country Of Citizenship : Germany Residence : Mulheim an der Ruhr Industry : Retail Education : NA Marital Status : Married, 2 children ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ Sementara itu orang terkaya termuda dipegang oleh pendiri jejaring sosial paling terkenal saat ini Facebook yaitu Mark Zuckerberg yang berusia 25 tahun. Seperti diumumkan oleh majalah Forbes, Zurkerberg ada pada urutan 785 dalam daftar orang terkaya di dunia. Forbes Associate Editor mengatakan, “Ia adalah milyader termuda di dunia, dan ia menghasilkan kekayaan dengan usahanya sendiri.” Mark Zurkerberg memiliki nilai kekayaan sebesar $1.5 milyar kira-kira sama dengan kekayaan yang dimiliki Oprah Winfrey. Pada awal penemuan facebook, pertengahan 2004 Friendster mengajukan tawaran kepada Zuckerberg untuk membeli Facebook seharga 10 juta US Dollar, dan Zuckerberg pun menolaknya. Selain menolak tawaran dari Friendster seharga 10 juta US Dollar, Zuckerberg juga pernah menolak tawaran dari Viacom yang ingin membeli Facebook seharga 750 juta US Dollar, dan tawaran dari Yahoo yang ingin membeli Facebook seharga 1 milyar US Dollar.*** Sumber : forbes.com



Jumat, 11 Februari 2011

Ketika Yahudi Menyatakan Perang

Ketika Yahudi Menyatakan Perang
Petikan dari koran tua ini saya muat dengan maksud untuk melengkapiSetali Yahudi dan Nazi yang dimuat di Rakyat Merdeka bulan Mei 2005, sepulang saya dari perjalanan ke Jerman. Dalam kunjungan ke Jerman itu saya sempat mendatangi dua bekas kamp konsentrasi Nazi di era Perang Dunia Kedua.
Daily Express
Friday, March 24, 1933

JUDEA DECLARES WAR ON GERMANY
Jews Of All The World Unite In Action
Boycott Germany Product
A strange and unforeseen sequel has emerged from the stories of German Jew-baiting.
The whole of Israel throughout the world is uniting to declare an economic and financial war on Germany.
Hitherto the cry has gone up: “Germany is persecuting the Jews.”
If the present plans are carried out, the Hitlerite cry will be: “The Jews are persecuting Germany.”
All Israel is rising in wrath against the Nazi onslaught on the Jews. Adolph Hitler, swept into power by an appeal of elemental patriotism, is making history of a kind he least expected. Thinking to unite only the German nation to race consciousness, he has roused the whole Jewish people to national renascence.
The appearance of the Swastika symbol of a new Germany has called forth the Lion of Judah, the old battle symbol of Jewish defiance.
Fourteen million Jews, dispersed throughout the world, have banded together as one man to declare war on the German persecutors of their co-religionists. Sectional differences and antagonisms have been submerged in one common aim – to stand by the 600,000 Jews of Germany who are terrorised by Hitlerite anti-Semitism and to compel Fascist Germany to end its campaign of violence and suppression directed against its Jewish minority.
World Jewry has made up its mind not to rest quiescent in face of this revival of medieval Jew-baiting.
Germany may be called on to pay a heavy price for Hitler’s antagonism to the Jews. She is faced with an international boycott in commerce, finance, and industry.
The Jewish merchant prince is leaving his counting-house, the banker his board-room, the shopkeeper his store, and the pedlar his humble barrow, to join together in what has become a holy war to combat the Hitlerite enemies of the Jew.
Plans for concerted Jewish action are being matured in Europe and America to strike back in reprisal at Hitlerite Germany.
In London, New York, Paris, and Warsaw Jewish merchants are waiting for a commercial crusade.
Resolutions are being taken throughout the Jewish business world to sever trade relations with Germany.
Large numbers of merchants in London have resolved to stop buying German goods, even at the cost of suffering heavy loss.
A meeting of the Jewish textile trade in London has been called for Monday to consider the situation and to determine what steps should be taken.
Germany is a heavy borrower in foreign money markets, where Jewish influence is considerable. Continued anti-Semitism in Germany is likely to react seriously against her. A move is on foot on the part of Jewish financiers to exert pressure to force anti-Jewish action to stop.
The Organisation of Jewish Youth in Britain are organizing demonstrations in London and the provinces during the weekend.
The Board of Deputies of British Jews, representing the entire Jewish community of Great Britain, are meeting in special session on Sunday to discuss the German situation, and to decide on what action should be taken to counteract the attacks on their German fellow-Jews.
World-wide preparations are being made to organize demonstrations of protest.
EMBARGO IN POLAND
A concerted boycott by Jewish buyers is likely to involve grave damage to the German export trade. Jewish merchants all over the world are large buyers of German manufactured goods, chiefly cotton goods, silks, toys, electrical fittings, and furniture.
In Poland, the trade embargo on Germany is already in operation. In France, a proposed ban on German imports is being widely canvassed in Jewish circles.
German Transatlantic shipping traffic is likewise threatened. The Bremen and the Europa, the German crack liners, may suffer heavily from a Jewish anti-German boycott. Jewish trans-ocean travellers form an important part of the patrons of these liners because of their extensive part in international trade. The loss of their patronage would be a heavy blow to Germany’s Atlantic trade.
In New York yesterday 10,000 Jewish ex-soldiers marched to the City Hall to hold a protest demonstration.
Large crowds watched the men, some of whom wore old British uniforms, petition the mayor to support them in a boycott of German goods.
Another petition was handed in at the British Consulate-General requesting that Palestine should receive refugees from Germany without restriction.
Members of the American House of Representatives are introducing resolutions protesting against the anti-Jewish excesses in Germany. The American trade unions, representing 3,000,000 workers, have also decided to join in the protest.
A rabbinical decree in New York has made the next Monday a day of fasting and prayer over the Hitler campaign.
Fasting will begin on Sunday at sunset and finish at sunset on Monday.
All Jewish shops in New York will be closed on Monday during a parade.
Apart from a monster meeting in Madison-square Garden, meetings are to be held in 300 American cities.
Madison-square Garden will see the remarkable sight of Bishop Manning speaking from a Jewish platform appealing for an end of the Hitler “terror.”
DAY OF SERMONS
It had been arranged to charge a shilling admission and 5 s. for box seats, but a public-spirited Jew, Frank Cohen, an insurance broker, gove [sic] a personal cheque for L 1,000 to cover all expenses, so admission will be free.
Every rabbi in the city of New York has been placed under a sacred obligation by rabbinical decree to devote Saturday’s sermon to the plight of Jews in Germany.
Representative Jewish organisations in the European capitals are understood to be making representations to their various Governments to use influence with the Hitler Cabinet to induce it to call a halt in the oppression of the German Jews.
The old and reunited people of Israel are rising with new and modern weapons to fight their age-old battle with their persecutors.


The Untold Story of Nazi Racial Laws and Men of Jewish Descent in the German Military

Hitler's Jewish Soldiers:
The Untold Story of Nazi Racial Laws and Men of Jewish Descent in the German Military







On the murderous road to "racial purity" Hitler encountered unexpected detours, largely due to his own crazed views and inconsistent policies regarding Jewish identity. After centuries of Jewish assimilation and intermarriage in German society, he discovered that eliminating Jews from the rest of the population was more difficult than he'd anticipated. As Bryan Mark Rigg shows in this provocative new study, nowhere was that heinous process more fraught with contradiction and confusion than in the German military. Contrary to conventional views, Rigg reveals that a startlingly large number of German military men were classified by the Nazis as Jews or "partial-Jews" (Mischlinge), in the wake of racial laws first enacted in the mid-1930s. Rigg demonstrates that the actual number was much higher than previously thought--perhaps as many as 150,000 men, including decorated veterans and high-ranking officers, even generals and admirals. As Rigg fully documents for the first time, a great many of these men did not even consider themselves Jewish and had embraced the military as a way of life and as devoted patriots eager to serve a revived German nation. In turn, they had been embraced by the Wehrmacht, which prior to Hitler had given little thought to the "race" of these men but which was now forced to look deeply into the ancestry of its soldiers. The process of investigation and removal, however, was marred by a highly inconsistent application of Nazi law. Numerous "exemptions" were made in order to allow a soldier to stay within the ranks or to spare a soldier's parent, spouse, or other relative from incarceration or far worse. (Hitler's own signature can be found on many of these "exemption" orders.) This photo of "half-Jew" Werner Goldberg, who was blond and blue-eyed, was used by a Nazi propaganda newspaper for its title page. Its caption: "The Ideal German Soldier."But as the war dragged on, Nazi politics came to trump military logic, even in the face of the Wehrmacht's growing manpower needs, closing legal loopholes and making it virtually impossible for these soldiers to escape the fate of millions of other victims of the Third Reich. Based on a deep and wide-ranging research in archival and secondary sources, as well as extensive interviews with more than four hundred Mischlinge and their relatives, Rigg's study breaks truly new ground in a crowded field and shows from yet another angle the extremely flawed, dishonest, demeaning, and tragic essence of Hitler's rule.

"Through videotaped interviews, painstaking attention to personnel files, and banal documents not normally consulted by historians, and spurred by a keen sense of personal mission, Rigg has turned up an unexplored and confounding chapter in the history of the Holocaust. The extent of his findings has surprised scholars."--Warren Hoge, New York Times.

"The revelation that Germans of Jewish blood, knowing the Nazi regime for what it was, served Hitler as uniformed members of his armed forces must come as a profound shock. It will surprise even professional historians of the Nazi years." --John Keegan, author of The Face of Battle and The Second World War.


"An impressive work filled with interesting stories. . . . By helping us better understand Nazi racial policy at the margins--i.e., its impact on certain members of the German military--Rigg's study clarifies the central problems of Nazi Jewish policies overall."--Norman Naimark, Stanford University, author of Fires of Hatred: Ethnic Cleansing in Twentieth-Century Europe.

"Half-Jew" Colonel Walter H. Hollaender, decorated with the Ritterkreuz and German-Cross in Gold; he received Hitler's Deutschblütigkeitserklärung. (Military awards: Ritterkreuz, German-Cross in Gold, EKI, EKII, and Close Combat Badge.)"An illuminating and provocative study that merits a wide readership and is sure to be much discussed."--Dennis E. Showalter, Colorado College, author of Tannenberg: Clash of Empires.

"An outstanding job of research and analysis. Rigg's book will add a great deal to our understanding of the German military, of the place of Jews and people of Jewish descent in the Nazi state, and of the Holocaust. It forces us to deal with the full, complex range of possible actions and reactions by individuals caught up in the Nazi system."--Geoffrey P. Megargee, author of Inside Hitler's High Command.

"With the skill of a master detective, Bryan Rigg reveals the surprising and largely unknown story of Germans of Jewish origins in the Nazi military. His work contributes to our understanding of the complexity of faith and identity in the Third Reich."--Paula E. Hyman, Yale University, author of Gender and Assimilation in Modern Jewish History and The Jews of Modern France.

"A major piece of scholarship which traces the peculiar twists and turns of Nazi racial policy toward men in the Wehrmacht, often in the highest ranks, who had partly Jewish backgrounds. Rigg has uncovered personal stories and private archives which literally nobody knew existed. His book will be an important contribution to German history."--Jonathan Steinberg, University of Pennsylvania, author of All or Nothing: The Axis and the Holocaust 1941-1943.

"An original, groundbreaking, and significant contribution to the history of the Wehrmacht and Nazi Germany."--James S. Corum, School of Advanced Air Power Studies, author of The Roots of Blitzkrieg and The Luftwaffe.

"Rigg's work has discovered new academic territory."--Manfred Messerschmidt, Freiburg University, author of Die Wehrmacht im NS-Staat (The Wehrmacht in the Nazi State).


Setali Yahudi Dan Nazi

8 MEI lalu penulis menghadiri peringatan 60 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Eropa. Acara peringatan itu digelar di sebuah persimpangan jalan, di luar kota Hannover, Jerman.
Upacara berlangsung sederhana. Beberapa bangku panjang diletakkan di tengah lapangan kecil di pinggir jalan. Podium disiapkan tak jauh dari sebuah monumen yang didirikan untuk mengenang Holocaust. “Ode to My Family” dan “No Need to Argue”, dua lagu Cranberries, mengiringi upacara.
Jangan bandingkan upacara kecil ini dengan upacara gegap gempita di Moskow yang dihadiri belasan kepala negara, termasuk George W Bush, Jacques Chirac, Gerard Schroeder, dan Vladimir Putin sebagai tuan rumah. Atau, peresmian monumen Holocaust terbesar yang dipersembahkan bagi orang Yahudi di Berlin tanggal 10 Mei.
Upacara di pinggir jalan yang diikuti penulis hanya dihadiri sekitar dua ratus orang. Beberapa di antara yang hadir adalah orang-orang yang lolos dari neraka kamp konsentrasi Jerman. Mereka datang dari berbagai negara. Mereka sudah sangat renta dan tak mampu berjalan tanpa bantuan orang lain.
Di seberang lokasi upacara tampak sebuah hutan kecil. Dulu, 60 tahun lalu, apa yang tampak sebagai hutan kecil itu adalah sebuah kamp konsentrasi. Namanya kamp konsentrasi Stocken. Seperti Bergen Belsen, bekas kamp konsentrasi lain yang disinggahi penulis dalam kunjungan ini, tak satu bangunan pun di kamp Stocken yang tersisa.
***
8 Mei 1945 pasukan Nazi Jerman menyerah tanpa syarat kepada pasukan Sekutu di Berlin. Bagi pasukan Sekutu peristiwa itu dikenal sebagai Victory in Europe Day (VE Day). Sementara orang Yahudi yang bertahan hidup di dalam kamp-kamp konsentrasi Jerman menyebutnya miracle atau keajaiban.
Kini Jerman termasuk negara Eropa yang memiliki populasi Yahudi terbesar. Hubungan antara Jerman dan Israel—yang diakui PBB sebagai negara tahun 1948—mencair pada tahun 1965. Sejak itu ratusan ribu orang Yahudi kembali menetap di Jerman.
Jerman pun merupakan partner utama Israel di samping Amerika Serikat. Kedua negara itu memiliki begitu banyak perjanjian kerjasama, mulai dari kerjasama militer dan intelijen hingga pembuatan film. Jerman disebut sebagai pasar terbesar Israel di Eropa, dan sebaliknya Israel menjadi pasar terbesar Jerman di Timur Tengah.
Namun ketegangan antara Jerman dan Israel dalam kadar tertentu masih terasa. Dan, bukan berarti karena Jerman harus menanggung akibat dari kekejaman Hitler di masa lalu, lantas Jerman rela mengekor apa pun langkah politik Israel.
The Economist edisi Mei 2005 mengutip, dalam polling yang dilakukan Universitas Bielefeld tahun lalu, misalnya, tak kurang dari 80 persen rakyat Jerman marah melihat perlakuan Israel terhadap Palestina. Menurut mereka apa yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina tak ada bedanya dengan apa yang dilakukan Nazi di masa Perang Dunia Kedua terhadap orang Yahudi.
Masih menurut The Economist, imigran Yahudi di Jerman pun mulai jadi persoalan. Dewan Pusat Komunitas Yahudi di Jerman saat ini sedang bernegosiasi dengan pemerintah Jerman mengenai batas jumlah imigran Yahudi yang diperbolehkan masuk ke negara itu. Sementara pemerintah Jerman hendak menerapkan seleksi terhadap imigran Yahudi berdasarkan sejumlah kriteria, seperti kemampuan berbahasa Jerman dan peluang memperoleh pekerjaan di Jerman. Maklumlah, hidup semakin mahal di Jerman.
Warga Israel juga punya pandangan yang relatif negatif terhadap “bekas musuh” mereka ini. Dalam sebuah polling yang baru-baru dilakukan di Israel, sebanyak 37 persen generasi muda Israel melihat Nazi berpeluang kembali berkuasa di Jerman.
Pemerintah Israel pun khawatir kebijakan politik luar negeri Jerman akan lebih ditentukan pada konsensus Uni Eropa yang cenderung berseberangan dengan kebijakan saudara utama Israel, Amerika Serikat. Israel khawatir lambat laun Jerman akan melupakan kewajiban sejarah mereka sebagai pihak yang paling bersalah atas penderitaan orang Yahudi selama Perang Dunia Kedua.
***
dailyexpress_march1933_judeafrontpagejpg
Siapa di antara kedua kubu itu yang lebih dahulu menyebar kebencian? Komunitas Yahudi yang tersebar di seluruh penjuru dunia, atau pemerintahan Third Reich di bawah kekuasaan Hitler?
Menurut sebuah catatan, orang Yahudi lah yang pertama kali menyatakan perang terhadap Jerman. Pernyataan perang itu diputuskan dalam pertemuan para pemimpin Yahudi dari seluruh penjuru dunia tanggal 23 Maret 1933, atau enam tahun sebelum perang yang sesungguhnya dimulai.
Deklarasi itu diberitakan secara luas, termasuk oleh harian yang terbit di London, Inggris, Daily Express. Koran itu menurunkan headline berjudul “Judea Declares War on Germany”. Pertemuan para pemimpin Yahudi itu pun memutuskan boycott terhadap produk-produk Jerman dan menghentikan kerjasama mereka dengan pengusaha Jerman.
Tanpa disadari, pernyataan perang melawan Jerman dan aksi boycott itu telah menyulut gerakan anti-Yahudi di Jerman. Orang Yahudi di Jerman, misalnya, dilarang bekerja sebagai dosen dan jurnalis.
Deklarasi perang yang diumumkan Yahudi itu pun telah memicu rasisme di negara-negara lain. Di Amerika, orang-orang Jepang ditangkapi. Di Kanada dan Inggris, orang-orang Italia dimasukkan ke bui.


Perlantikan William Daley Terhadap Negara Malaysia

Perlantikan William M. Daley pada 6 Januari lalu sebagai Setiausaha Ekonomi Amerika dalam kerajaan Obama sangat memberi tekanan tersirat kepada rakyat Malaysia.
Apakah kaitan rakyat Malaysia dengan perlantikan Daley?
Tidak ada kena-mengena tetapi hakikat yang besar dapat dilihat pada perlaksanaan program pemvaksinan percuma HPV kepada rakyat Malaysia. Semenjak pelancaran program vaksin HPV percuma itu ramai pihak yang membantah khususnya Persatuan Pengguna Pulau Pinang (CAP).
Semua pihak sedia maklum (pihak2 yang mahu berfikir) bahawasanya vaksin Gardasil yang dibeli Kementerian Kesihatan amat diragui akan kandungannya. Malah program pemvaksinan percuma itu juga diragui kerana dibuat dalam keadaan tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan pandangan masyarakat.
Gardasil (vaksin HPV) yang diberikan kepada pelajar-pelajar perempuan Malaysia jika di luar negara, pastinya menghadapi tekanan hebat dari masyarakat antarabangsa. Syarikat pengeluar Gardasil pula sentiasa menghadapi saman berjuta-juta oleh rakyat kerana menyebabkan kematian.
Tetapi bila terlantiknya William M. Daley, ia terbukti rungutan rakyat Malaysia tidak akan dipedulikan oleh kementerian kerana Daley adalah ahli lembaga pengarah syarikat Meck & Co. iaitu pengeluar vaksin Gardasil yang diimport kementerian kesihatan.
Keadaan ini memungkinkan wujud dua pilihan untuk kerajaan iaitu:
  1. Sama ada mengutamakan aduan rakyat tentang bahaya Gardasil
  2. Atau mengutamakan hubungan dua hala antara Malaysia dan Amerika.
Sekiranya kerajaan membatalkan serta-merta vaksin HPV keluaran Merck & Co., ia secara tidak langsung telah menarik perhatian William M. Daley sebagai setiausaha kerajaan Obama. Kemungkinan usaha kerajaan Malaysia untuk mendapat perhatian Amerika mungkin terjejas. Selain itu, Perdana Menteri juga perlu menjawab berkenaan punca pembatalan tersebut jika ditanya oleh Daley.
Jika kerajaan berani memutuskan pembelian Gardasil dan memilih vaksin lain, hanya ada satu jenis vaksin lagi yang dikeluarkan iaitu Cerverix, itu pun keluaran GlaxoSmithKline (GSK) syarikat pengeluar vaksin H1N1 yang penuh kontroversi.
Ringkasnya, jika kerajaan memilih pilihan (1) maka hubungan baik dengan kabinet Obama mungkin sedikit terjejas dan kerajaan perlu menjaga hubungan ini.
Keduanya, jika kerajaan memilih pilihan ke-2 maka secara automatiknya, kerajaan telah membelakangkan slogan yang dicanang-canangkan di seluruh Malaysia iaitu
“Rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan”.
Ini sudah pasti boleh menjadi modal besar kepada pihak pembangkang dalam menghadapi pilihanraya akan datang.
Berikut ialah kesan-kesan sampingan akibat Gardasil yang tidak didedahkan Kementerian Kesihatan
  1. 1. Guillain-Barre Syndrome
  2. 2. Thromboembolic Events
  3. 3. Amyotrophic Lateral Sclerosis
  4. 4. Seizures and/or Epilepsy
  5. 5. Paralysis
  6. 6. Severe Allergic Reactions


“Why the Aryan Law”: A 1934 Nazi pamphlet on racial laws.

Background: The “Aryan Law” was a piece of legislation the Nazis implemented early in Hitler’s rule to drive Jews out of the professions. This 54-page pamphlet summarizes the law and argues for its beneficial effects. It was designed for mass distribution. The bulk of the pamphlet provides figures to show that Jews were over-represented in various populations. It then claims this is the result of Jewish arrogance, and that Germany was saved by Hitler from a Jewish takeover. This is a good example of early Nazi anti-Semitism. It claims Jews are being treated well, and that only their intolerable presumption is being restricted.
I have included most, but not all of the charts and one of the five illustrations.
The inside cover includes a price list, noting that at 501 copies and above, the price was 55 pfennig each (about the price of two beers). The publisher, the Verlag “Neues Volk”, was affiliated with the Nazi Party, and was the publisher of the monthly periodical of the Racial Policy Office of the party, titled Neues Volk.
The source: E. H. Schulz and R. Frercks, Warum Arierparagraph? Ein Beitrag zur Judenfrage (Berlin: Verlag Neues Volk, 1934).


To the Front Fighters of the World by Rudolf Hess

To the Front Fighters of the World

by Rudolf Hess



In a few weeks, it will be the twentieth anniversary of the beginning of the great heroic struggle of the German soldiers. It was here in East Prussia that the great soldier Hindenburg rescued your land — the same soldier who today as Reich president is the guarantee of peace.
East Prussia suffered more than any other German province during the war. East Prussia experienced the brutal reality of war. For a long time, some areas bore the impact of the Russian attack. Many of you, my East Prussian party comrades, can still remember the misery of the refugees streaming from the homeland they left behind to escape the Cossacks.
Because you have known war on your own soil, I chose here in East Prussia to speak words I had long wanted to speak to Germany and above to all the world.
Our nation has the good fortune today to be led largely by front soldiers, by front soldiers who carried the virtues of the front to the leadership of the state.
The rebuilding of the Reich was guided by the spirit of the front. It was the spirit of the front that created National Socialism.
In the face of looming death at the front, ideas of social standing and class collapsed. At the front, the sharing of common joys and common sorrows led to a previously unknown camaraderie between citizens. At the front, everyone could see that the common fate towered above the individual fate.
One more thing grew in front fighters, despite the bitter relentlessness of the battle: The sense of a certain inner connection with front fighters across no man’s land, who bore the same burdens, stood in the same mud, were threatened by the same death.
This feeling of connectedness remains to this day.
When front fighters meet, though they were once enemies, they now share the same memories and opinions. They talk of the World War, but behind their words they hope for peace. The front fighters are, therefore, called to be a bridge of understanding, helping one nation to understand another when politicians are unable to find the way.
It is no accident that the states which are entirely led by front fighters — Germany and Italy — are working hardest for world peace. And it is no accident that when the front fighters Hitler and Mussolini met, they quickly developed a warm personal relationship.
We have signed a treaty that serves peace with our Polish neighbor, where a soldier — Marshall Pilsudski — is in charge.
And the strongest support for Hitler’s efforts to bring about an understanding with our western neighbor comes from France’s front soldiers.
We front soldiers do not want incompetent diplomacy to lead us once again into catastrophe, whose chief victims would once again be front soldiers. We soldiers on all sides feel free of the responsibility for the last war. We want to fight together to prevent a new catastrophe. We want to join in building together what we together destroyed during the war.
It is high time for a true understanding between the nations. It must be an understanding that rests on mutual respect, since only that can last — the kind of respect that characterizes the relations between former front soldiers.
Let there be no doubt: Most large states have piled up more war material than ever before. It is war material that threatens to become obsolete, but still threatens distrustful nations with a terrible powder keg. The slightest cause, like that cursed shot fired in Sarajevo — perhaps from the pistol of a fool — might suffice to bring forth armies of millions, against the will of the affected peoples. Whole regions might be plowed up by tens of thousands of shells of every size and weight, cities and villages might be transformed into seas of flame, all life might perish in clouds of gas.
He who fought in the World War has an inkling of what a modern war with its perfected weapons might mean.
And so I turn to my comrades from the front of the World War, both here and abroad.
Be honest! Once we stood out there, proud to be true men — soldiers, fighters, far from the routine of our former lives. We sometimes may have enjoyed a life that stood in stark contrast to the decadence that modern culture and its excesses bring. We felt superior to those far behind the lines who had nothing to do with life at the front. We felt that we were defending the life of our nation, that we were the bearers of its future.
Sometimes we had glad and cheerful hours. We attempted to live each minute of the life that had been given us with double intensity. None of us wanted to have the time at the front fade from memory.
But be honest again! We sensed the horror of death. We probably saw death more terribly and intensely than any who came before us. We crouched in the trenches, waiting for devastating attacks. We held our breath in fear when we heard the shells rushing toward us, when mines exploded near us. Our hearts almost burst as we vainly sought cover from the zinging of machine guns. We thought we were suffocating behind our gas masks. We staggered through water-filled trenches. We kept watch on frosty nights in the mud of shell holes. We endured days and weeks of horror during the great battles. We froze and starved and sometimes came near to desperation. We heard the cries of the badly wounded, we saw those gasping for breath after gas attacks. We met the blind staggering along, we heard the death rattles of the dying. Our last hopes for life vanished amidst the corpses of our comrades. We saw the misery of refugees behind us. We saw the widows and orphans, the cripples and the suffering, the sick children, the starving women.
Be honest! Did not each of us say: Why is all this happening? Does it have to be? Cannot humanity be spared this in the future?!
Still we held on — on our side and on the other side! We held on as men doing their duty, who displayed discipline and loyalty, men who abhorred cowardice.
Today I raise the same question to all the world — as a front fighter to front fighters, as a leader of one people to the leaders of other peoples: Must it be?! Can we not together through good will spare humanity from this?!
Someone might ask me: Why do you raise your voice for the first time today? Why were you silent in past years?
This is my answer: Because my voice would have been mixed together in Germany with the voices of traitors to their own people — with the voices of those who once attacked our front soldiers from the rear — with the voices of those who besmeared front soldiers and praised cowards — with the voices of those in Germany who have the Treaty of Versailles on their consciences. I wanted nothing to do with them.
Today I may speak because a man of my people has restored the honor of this people before the world. Today I may speak because this man has silenced the traitors. Today I may speak because the world knows that a National Socialist fighter is no coward. Today I may speak because the leader of my people extends the hand of peace to the world. Today I may speak because Adolf Hitler, the bravest of the brave, keeps me from being misunderstood or confused with cowards.
Today I must speak because I support the man who attempts to save the world at the last moment from catastrophe. Today I raise my voice because I want to warn the world not to confuse the Germany of today, the Germany of peace, with the Germany that was, with the Germany of pacifism!
People must know this: The horrors of the war are always before us, and the postwar generation wants war no more than the old generation. But no one can “stroll through” Germany. Just as the French defended every inch of their soil in the great war with all their might, and would do so again today, so too would we Germans today. The French front soldier above all will understand us when we say to those who play with the idea of another war — which naturally others would have to fight at the front, not they: “Just try to attack us! Just try to march into the new Germany! The world will see the spirit of the new Germany! It would fight for its freedom as no nation before it has ever fought!
The French people know how one defends his own soil. Each [German] woods, each hill, each farm would have to be paid for in blood! Old and young would dig into the soil of the homeland! They would defend themselves with unequaled fanaticism!
And even if the superiority of modern weapons triumphed, the path through the Reich would be a path of grim sacrifice for the invaders as well, for never was a nation so sure of the justice of its cause and of the duty to defend itself to the utmost as our nation is today.
But we do not believe the well-poisoners of international relations who want to suggest to us that some nation wishes to disturb the peace of Germany, and therefore of Europe, if not even the world.
We particularly do not believe this is true of the French people. We know that this people, too, longs for peace. Just as we front fighters felt, so also did the French population behind the lines, which always saw the war as a disaster for them and for the whole world: “Malheur pour nos — malheur pour vos — malheur pour tout le monde!”
We in Germany — and particularly Germany’s front soldiers — have responded with sympathy to the voices in the French veteran’s organizations calling for honest understanding with Germany. This call surely comes both from experience with the true nature of war as well as from the esteem that France’s front soldiers feel for the achievements of German front soldiers.
France’s soldiers know the bravery the Germans displayed against superior forces for four and a half years. And German front soldiers can never deny the French front soldier the honor due his bravery. This bravery finds expression in the fact that France’s army had the highest losses on the Allied side.
Front soldiers want peace.
The peoples want peace.
Germany’s government wants peace.
Even if the words of leading representatives of the French government from time to time do not display to us a spirit of understanding, we do not give up hope that despite it all, France’s government wants peace. Since the French people surely want peace, we are convinced that France’s government does not want war with Germany.
And if leading French spokesmen do not speak the language of the French people or France’s front fighters, we may not take their speeches as the thinking of France’s leadership. A Frenchman who knows the people and politics of his land well told me: “Take pity on us! We still have a parliamentarian government!”


Adolf Hitler (NAZI) dan Yahudi !! Bongkar

4922585066 e76c77332e Adolf Hitler (NAZI) dan Yahudi !! Bongkar..
Sebenarnya, hidup ini dipenuhi dengan konspirasi. Selama ini kita selalu dimomokkan yang mana Yahudi diperlakukan dengan kejam oleh tentera Nazi, pimpinan Adolf Hitler. Tetapi sebenarnya Holocoust itu adalah antara agenda zionis semata-mata untuk menarik simpati dunia bagi membenarkan mereka kembali ke bumi palestin dan tertubuhnya negara haram israeliat. Modus operandi seperti ini juga diguna pakai sebagaimana yang berlaku semasa  serangan WTC di New York……..
4922585196 c9a12bb976 Adolf Hitler (NAZI) dan Yahudi !! Bongkar..
Ingat lagi antara kata-kata Adolf Hitler mengenai Yahudi:
Saya boleh menghapuskan semua bangsa yahudi ketika saya berkuasa, tapi saya tinggalkan sedikit untuk kamu mengenali siapakah sebenarnya bangsa yahudi dan mengapa saya membunuh mereka.
- Adolf Hitler.
Tiada apa yang dikejutkan dengan penemuan ini, kerana rata-rata ramai yang mengetahui Adolf Hitler mempunyai darah campuran Yahudi. Cuma yang menjadi persoalan sekarang, apa konspirasi dan muslihat mereka selepas ini, kerana penemuan ini diumumkan secara tiba-tiba……dan mula digembar-gemburkan oleh mereka. Sedangkan apa yang mereka buat sebelum ini? Mengapa mengambil masa yang terlalu lama untuk memaklumkan untuk penemuan kali ini?
4921990399 3f113afb23 Adolf Hitler (NAZI) dan Yahudi !! Bongkar..
BRUSSELS – Ujian Asid Deoksiribonukleik (DNA) ke atas ahli keluarga pemimpin Nazi di Jerman, Adolf Hitler menunjukkan bahawa dia mungkin berketurunan Yahudi dan Afrika Utara.Penemuan itu mengejutkan kerana Hitler bertanggungjawab mengarahkan pembunuhan penduduk berketurunan Yahudi pada zaman Perang Dunia Kedua.
Hitler mati dengan menembak dirinya semasa Jerman kalah dalam perang Dunia Kedua. Majalah Knack yang beribu pejabat di Brussels mendakwa DNA yang diambil daripada saudara Hitler yang tinggal di Amerika Syarikat (AS) telah membawa kepada penemuan tersebut.
Seorang wartawan, Jean-Paul Mulders mengumpulkan DNA daripada kain napkin yang digunakan oleh salah seorang daripada tiga pewaris Hitler yang tinggal di Long Island, New York. Kejayaan DNA itu menyebabkan seorang petani di Austria yang hanya dikenali sebagai Norbert H. dan merupakan sepupu kepada diktator Jerman tersebut berjaya dijejaki. Mulders mendapatkan khidmat pakar sejarah Marc Vermeeren untuk mencari Norbert di Waldviertel, Austria.
Norbert H. memberikan Vermeeren dan Mulders sampel air liurnya. Dengan menggunakan sampel Norbert dan DNA daripada kain napkin itu, Mulders mendakwa terdapat hubungan antara kedua-dua lelaki itu. Namun, DNA jenis Haplopgroup E1b1b (Y-DNA) yang ditemui pada kedua-dua lelaki itu jarang dijumpai di Jerman dan Eropah Barat.
“Ia lazimnya ditemui dalam penduduk Barbar di Maghribi, Algeria, Libya dan Tunisia termasuk puak Yahudi Ashkenazi dan Sephardic,” kata Mulders. “Itu merupakan keputusan yang mengejutkan. Sukar diramalkan bagaimana penyokong dan penentang Hitler menerima maklumat ini,” kata pakar genetik, Ronny Decorte yang mengesahkan hasil ujian terbabit dan menegaskan bahawa kemungkinan Hitler juga mempunyai darah keturunan Afrika Utara.
Menurut majalah Knack, DNA itu diuji dalam kondisi makmal yang ketat. – Agensi
4921990137 2263cf164a Adolf Hitler (NAZI) dan Yahudi !! Bongkar..
Kalau sebelum ini kecoh sebentar dengan terbongkarnya rahsia disebalik Adolf Hitler berbaik dengan orang Islam dan juga mendapat mandat daripada ulama-ulama mengenai bangsa Yahudi. Adolf  Hitler juga dikatakan mengkaji Al-Quran tentang siapa itu Yahudi dan macam-macam lagi…..
Apa itu peristiwa holocoust seperti yang dicanang selama ini :
Holocaust adalah peristiwa pemusnahan hampir seluruh Yahudi Eropah oleh Nazi Jerman dan kelompoknya ketika berlakunya Perang Dunia II. Orang Yahudi sering menyebut peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berertiti malapetaka atau bencana hebat. Holocaust sendiri berasal dari bahasa Yunani, holo yang bererti seluruh, dan caustos yang bererti terbakar.
Kononnya, Nazi Jerman dipercaya telah memusnahkan sekitar 6.3 juta orang Yahudi (angka yang dicanang selama ini oleh puak-puak Yahudi)
4922585252 517f63a38d Adolf Hitler (NAZI) dan Yahudi !! Bongkar..
Pembunuhan Yahudi secara beramai-ramai adalah merupakan satu rancangan besar dan pembohongan paling besar yang mereka rancang sebelum tertubuhnya negara haram Israel, dengan adanye pembunuhan beramai-ramai maka dunia akan jatuh simpati pada kaum Yahudi yang kononnya ditindas.
Tetapi hakikatnya orang Yahudi ini perangainya, mereka sanggup berkorban apa sahaja demi kepentingan kaum mereka walaupun terpaksa bergadai nyawa. Selepas sahaja kejadian pembunuhan beramai-ramai, mereka telah berhijrah ke Palestin dan selepas itu tertubuhnya sebuah negara haram Israel yang meraka merampas hak Palestine.
Lihat apa yang berlaku sekarang? Jangan sesekali percaya bulat-bulat dengan agenda Yahudi. Perlu berjaga-jaga. Agenda Yahudi ialah mahu menunjukkan kepada dunia bahawa Islam itu ganas sehingga sanggup membunuh orang untuk menguasai dunia.Dan lihatlah hari ini, kenapa Israel dan kuda tunggangan US tidak pernah sesekali pun merancang  menyerang Jerman, jika betul NAZI yang membunuh “puak” mereka? Kenapa mereka lebih gemar mengacau keamanan negara-negara Timur Tengah?
4921990343 0bb844a258 Adolf Hitler (NAZI) dan Yahudi !! Bongkar..
Antara persoalan lain yang boleh dikongsikan mengenai perihal Adolf Hitler, Yahudi :
  1. Datuk kepada bekas presiden George Bush juga pernah memberikan bantuan kepada Hitler untuk berkuasa. ,  “George Bush’s grandfather, the late US senator Prescott Bush, was a director and shareholder of companies that profited fromtheir involvement with the financial backers of Nazi Germany. “
  2. Mengapa ramai saintis NAZI diserap masuk ke dalam NASA??
  3. Dua-dua negara ini iaitu Jerman (NAZI) dan Amerika Syarikat mencetuskan visi globalisasi iaitu untuk menguasai DUNIA. Antara cita-cita Hitler adalah untuk memerintah dunia. Adakah secara kebetulan?
  4. Adolf Hitler dipercayai adalah agen British dan pernah ke England pada 1912 untuk urusan latihan. Antara yang dipelajarinya adalah untuk BRAINWASH manusia.  Tempat latihannya adalah di British Military Psych-Ops War School ,Tavistock , Devon dan di Ireland.  Maklumat tentang Hitler ke England ada tercatat dalam buku catatan adik iparnya , “The Memoirs of Bridget Hitler”(1979).  Semasa Perang Dunia Pertama, Hitler hanya menjadi ‘runner’ dalam askar Jerman dan pernah ditangkap 2 kali oleh askar British.  Dia telah dikenakan hukuman oleh British Intelligence.
  5. Kedua-dua negara ini iaitu Jerman (NAZI) dan Amerika Syarikat telah membunuh jutaan manusia. NAZI bukan sahaja membunuh orang-orang Yahudi, tetapi juga orang-orang POLAND, orang-orang Slavic dan lain-lain
  6. Hitler sendiri juga ada darah campuran Yahudi. Dan 155,000 askar NAZI adalah berdarah Yahudi juga, termasuklah seribu lebih pegawai-pegawai dan pegawai-pegawai tertingginya.  Tetapi Yahudi yang mana yang mereka bantai habis-habisan itu?
  7. Media menggembar-gmburkan Adolf Hitler membunuh 6.8 juta Yahudi tetapi di Eropah pada masa itu Yahudi cuma ada sekitar 3.5 juta sahaja. ehem….
Kita tengok NAZI bantai atau bunuh Yahudi yang mana? Itu turut menjadi persoalannya sekarang. Illuminati pun ada yang mengaku bahawa mereka keturunan Yahudi tetapi sebaliknya kebanyakan mereka adalah keturunan Namrud dan Firaun, bukannya Yahudi tulen.  Adakah semua Yahudi itu JAHAT? Nabi Isa a.s pun berketurunan Yahudi.


Adolf Hitler Yahudi dan Perang Dunia Kedua

Apabila Perang Dunia Pertama berakhir, perang untuk minyak masih lagi berterusan. British menguasai kawasan minyak di Iraq dan Standard Oil(dikuasai John D. Rockefeller yang sekarang ni Exxom-Mobil dan Chevron Oil) sanggup berbuat apa-apa sahaja untuk mendapatkan kawasan minyak tersebut.
Maka apa yang Rockfeller buat adalah ‘melancarkan perang’ terhadap negaranya sendiri iaitu USA dan memberi bantuan kewangan kepada Hitler untuk naik dan berkuasa, maka memudahkan Rockefeller menguasai kawasan minyak tersebut apabila keadaan perang dan huru-hara.
Ayah kepada Hitler, Alois Hitler diragui anak kepada Johann Georg Hiedler . Maka penyiasatan dilakukan oleh polis Austria atas arahan ChancellorJerman pada masa itu, Dollfuss. Setelah penyiasatan terperinci dijalankan, maka satu dokumen sulit disediakan dan nenek kepada Hitler, Maria Anna Schicklgruber telah bekerja dengan keluarga Rothschilds di Austria.
Baron Rothschilds telah melakukan hubungan sulit dengan Maria sehingga mengandung. Apabila mengetahui Maria mengandung, keluarga Rothschilds telah menghantar secara rahsia Maria ke Spita, Jerman dan melahirkan anak iaitu Alois Hitler, bapa kepada Hitler. Ini membuatkan susur galur Hitler terdapat darah Yahudi padanya kerana Alios Hitler (bapa kepada Adolf Hitler) anak haram kepada Baron Rothschilds.
Oleh kerana Rockefeller mengetahui bahawa Hitler adalah sedarah denngannya iaitu darah Yahudi dan keturunan kepada rakan baik dan sekutu rapat beliau, Rothchilds maka Rockefeller bersama Jacob Schiff, Prescott Bush (datuk kepada George W. Bush), Paul Warburg (Banker USA), Paul Warburg (Jerman),Alfried Krupp von Bohlen telah mengeluarkan dana yang banyak untuk menaikkan Hitler ke puncak kekuasaan dan menjadi Chancellor dan Fuhrer (pemerintah tertinggi) Jerman.
Mereka juga telah mengeluarkan dana yang besar supaya Hitler memulakan Perang Dunia Kedua supaya Rockefeller dapat mengusai kawasan minyak tersebut dan para banker tersebut dapat mengusai ekonomi yang lemah semasa perang.
Dalam masa sama, seorang lagi Yahudi, Pierre S. du Pont, yang juga merupakan sekutu kuat kepada Rockefeller dan Rothcschilds dari syarikat kejuruteraan ketenteraan terbesar pada masa tu (dan pada masa sekarang juga, Syarikat DuPont, telah mendapat keuntungan besar hasil jualan alatan ketenteraan dan senjata kepada kedua-dua pihak yang berperang (Paksi dan Perikatan).
Rockefeller pula telah mendapat keuntungan USD 200 juta (USD 200 juta pada masa tersebut bersamaan USD 20 trillion masa sekarang) atas Perang Dunia Kedua dan juga dapat mengusai kawasan minyak di Iraq yang tersebut.
Dalam masa sama, rancangan terbesar mereka untuk memindahkan Yahudi ke tanah Israel juga dikatakan berjaya. Mereka membiayai Hitler untuk mewujudkan peristiwa Holocoust untuk membuatkan Yahudi berasa perlu berhijrah ke Israel untuk rasa selamat. Padahal, hanya sedikit sahaja Yahudi yang dibunuh (tidak sampai 5000 orang yahudi), itupun yang degil dan ingkar untuk berhijrah ke Israel.
Hitler yang mengetahui dokumen sulit susur-galur dirinya dengan Rothschilds telah cuba merancang pembunuhan ke atas Chancellor Dullfuss. Setelah rancangan puak Yahudi tersebut berjaya (mendapat kawasan minyak, membuatkan yahudi berasa untuk pindah ke Israel yang baru diwujudkan dan membesarkan Israel, mendapat penguasaan ekonomi dan syarikat besar, mendapat keuntungan berlipat-kali ganda), maka mereka telah menamatkan perang tersebut dengan pengusaaan pihak Allies ke atas Berlin selepas Jerman dibom bertalu-talu, dan selepas kekalahan teruk Jerman di Stalingrad (sekarang ini St. Petersburg) dan penyerahan kalah Jepun selepas dibom bertalu-talu hingga kemuncak dibom dengan bom nuklear di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa pembohongan terbesar dalam sejarah iaitu Holocaust juga telah berjaya diwujudkan untuk kepentingan Yahudi laknat.
Hitler telah membunuh diri disebabkan arahan ‘pihak atasan’ Yahudi tersebut untuk menutup segala rahsia perancangan perang tersebut. Ada mengatakan, Hitler telah diseludup secara rahsia ke Argentina atau Chile dan mati akibat sakit di sana.


The SS Men wore black uniforms with a skeleton's head on their hats MASTER OF DEATH

The SS Men wore black uniforms with a skeleton's head on their hats, the motto Unsere Ehre heisst Treue on their belts and their symbol was the double S-rune. They had sworn eternal faith to Adolf Hitler and they were his most ruthless henchmen, men often seen as the very personifications of evil. A violent group who rose to power in a democracy and established institutions of legitimized terror.

These masterminds of death were found to be quite psychologically normal. They were men of fine standing, husbands who morning and night kissed their wives, fathers who tucked their children into bed.

But murders, brutalities, cruelties, tortures, atrocities, and other inhuman acts were an everyday occurrence.

In 1933 approximately nine million Jews lived in the countries of Europe that would be occupied by Germany during the war. By 1945 two out of every three European Jews had been killed by the SS Men. The Holocaust was the systematic annihilation of six million Jews.
But Jews were not the only group singled out for persecution by Hitler’s Nazi regime. As many as one-half million Gypsies, at least 250,000 mentally or physically disabled persons, and more than three million Soviet prisoners-of-war also fell victim to Nazi genocide. Jehovah’s Witnesses, homosexuals, Social Democrats, Communists, partisans, trade unionists, Polish intelligentsia and other undesirables were also victims of the hate and aggression carried out by the Nazis.

The number of children killed during the Holocaust is not fathomable and full statistics for the tragic fate of children who died will never be known. Some estimates range as high as 1.5 million murdered children. This figure includes more than 1.2 million Jewish children, tens of thousands of Gypsy children and thousands of institutionalized handicapped children who were murdered under Nazi rule in Germany and occupied Europe.


Archives

Pengikut

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More